KESIMPULAN
MODUL 2.3 "COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK"
Tujuan coaching adalah menuntun coachee untuk menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi atau mencapai tujuan yang dikehendaki dan membangun kemitraan yang setara dan coachee sendiri yang mengambil keputusan. Coach hanya menghantarkan melalui mendengarkan aktif dan melontarkan pertanyaan, coachee lah yang membuat keputusan sendiri.
Proses coaching sebagai komunikasi pembelajaran antara guru dan murid, murid diberikan ruang kebebasan untuk menemukan kekuatan dirinya dan peran pendidik sebagai ‘pamong’ dalam memberi tuntunan dan memberdayakan potensi yang ada agar murid tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan dirinya tanpa membahayakan dirinya.
Pendekatan komunikasi dengan proses coaching merupakan sebuah dialog antara seorang coach dan coachee yang terjadi secara emansipatif dalam sebuah ruang perjumpaan yang penuh kasih dan persaudaraan.
Paradigma Berpikir Coaching
- Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan,
- Bersikap terbuka dan ingin tahu,
- Memiliki kesadaran diri yang kuat,
- Mampu melihat peluang baru dan masa depan
Prinsip Coaching
- Kemitraan,
- Proses Kreatif,
- Memaksimalkan Potensi
Prinsip dan Paradigma Berpikir
Coaching dalam Supervisi Akademik
Costa dan Garmston (2016)
menyampaikan bahwa kita bisa memberdayakan guru melalui coaching, kolaborasi,
konsultasi, dan evaluasi, yang interaksinya bergantung kepada tujuan dan hasil
yang diharapkan. Namun, posisi awal yang kita ambil adalah posisi sebagai
seorang coach, sebelum kita mengetahui tujuan dan hasil yang diharapkan oleh
guru yang akan kita berdayakan. Oleh sebab itu, prinsip dan paradigma berpikir
coaching ini perlu selalu ada sebelum kita memberdayakan seseorang.
Kompetensi Inti Coaching :
- Kehadiran Penuh /Presence
- Mendengarkan Aktif
- Mengajukan Pertanyaan Berbobot
Mendengarkan aktif yaitu RASA
yang diperkenalkan oleh Julian Treasure :
RASA merupakan akronim dari Receive, Appreciate,
Summarize, dan Ask yang akan dijelaskan sebagai berikut:
R (Receive/Terima), yang berarti
menerima/mendengarkan semAskua informasi yang disampaikan coachee. Perhatikan
kata kunci yang diucapkan.
A (Appreciate/Apresiasi), yaitu
memberikan apresiasi dengan merespon atau memberikan tanda bahwa kita
mendengarkan coachee. Respon yang diberikan bisa dengan anggukan, dengan kontak
mata atau melontarkan “oh…” “ya…”. Bentuk apresiasi akan muncul saat kita
memberikan perhatian dan hadir sepenuhnya pada coachee tidak terganggu dengan
situasi lain atau sibuk mencatat.
S (Summarize/Merangkum),
saat coachee selesai bercerita rangkum untuk memastikan pemahaman kita sama.
Perhatikan dan gunakan kata kunci yang diucapkan coachee. Saat merangkum bisa
gunakan potongan-potongan informasi yang telah didapatkan dari percakapan
sebelumnya. Minta coachee untuk konfirmasi apakah rangkuman sudah sesuaiSetelah
merangkum apa yang disampaikan coachee bagian terakhir adalah
A (Ask/Tanya), mengajukan
pertanyaan berbobot.
Coaching dengan Alur TIRTA
- Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee.
- Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi.
- Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)
- TAnggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya)
Umpan Balik berbasis Coaching
Hal-hal yang perlu diperhatikan
saat memberikan umpan balik dengan prinsip coaching:
- Tujuan pemberian umpan balik adalah untuk membantu pengembangan diri coachee,
- Tanpa umpan balik, orang tidak akan mudah untuk berubah,
- Sesuai prinsip coaching, pemberian umpan balik tetap menjaga prinsip kemitraan,
- Selalu mulai dengan memahami pandangan/pendapat coachee
Menurut Costa dan Garmston
(2016) dalam Cognitive Coaching: Developing Selfdirected Leaders and Learners,
ada beberapa jenis umpan balik balik yang mendukung kemandirian untuk penerima
umpan balik
Supervisi Akademik dengan
Paradigma Berpikir Coaching
Dengan memiliki paradigma
berpikir coaching, kita bersama akan meningkatkan peran kita di sekolah sebagai
seorang supervisor. Supervisor yang dimaksud dapat diperankan oleh kepala
sekolah, guru senior dan rekan sejawat.
Supervisi akademik merupakan
serangkaian aktivitas yang bertujuan untuk memberikan dampak secara langsung
pada guru dan kegiatan pembelajaran mereka di kelas. Supervisi akademik perlu
dimaknai secara positif sebagai kegiatan berkelanjutan yang meningkatkan
kompetensi guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam mencapai tujuan
pembelajaran yakni pembelajaran yang berpihak pada anak. Karenanya kegiatan
supervisi akademik hanya memiliki sebuah tujuan yakni pemberdayaan dan
pengembangan kompetensi diri dalam rangka peningkatan performa mengajar dan
mencapai tujuan pembelajaran (Glickman, 2007, Daresh, 2001).
Supervisi akademik sebagai
proses berkelanjutan yang memberdayakan dan Kualitas guru yang diharapkan untuk
berkembang juga termasuk didalamnya peningkatan motivasi atau komitmen diri.
Kualitas pembelajaran meningkat seiring meningkatnya motivasi kerja para guru.
Peningkatan kompetensi pendidik dalam mendesain pembelajaran yang berpihak pada
murid
Seorang pemimpin pembelajaran
dan sekolah perlu menghidupi paradigma berpikir yang memberdayakan bagi setiap
warga sekolah dan melihat kekuatan-kekuatan yang ada dalam komunitasnya.
Melalui supervisi akademik potensi setiap guru dapat dioptimalisasi sesuai
dengan kebutuhan yang nantinya dapat membantu para guru dalam proses
peningkatan kompetensi dengan menerapkan kegiatan pembelajaran baru yang
dimodifikasi dari sebelumnya. Dan salah satu strategi yang dapat dilakukan
dalam mencapai tujuan tersebut adalah melalui percakapan coaching dalam
keseluruhan rangkaian supervisi akademik.
Beberapa prinsip-prinsip
supervisi akademik dengan paradigma berpikir coaching meliputi:
- Kemitraan
- Konstruktif
- Terencana
- Reflektif
- Objektif
- Berkesinambungan
- Komprehensif
Supervisi akademik didasarkan pada kebutuhan dan tujuan sekolah dan dilaksanakan dalam tiga tahapan, yakni
- perencanaan,
- pelaksanaan supervisi, dan
- tindak lanjut.
Sebuah kegiatan supervisi klinis bercirikan:
- Interaksi yang bersifat kemitraan.
- Sasaran supervisi berpusat pada strategi pembelajaran atau aspek pengajaran yang hendak dikembangkan oleh guru dan disepakati bersama antara guru dan supervisor.
- Siklus supervisi klinis: pra-observasi, observasi kelas, dan pasca-observasi
- Instrumen observasi disesuaikan dengan kebutuhan
- Objektivitas dalam data observasi, analisis dan umpan balik
- Analisis dan interpretasi data observasi dilakukan bersama-sama melalui percakapan guru dan supervisor
- Menghasilkan rencana perbaikan pengembangan diri
- Merupakan kegiatan yang berkelanjutan
Siklus dalam supervisi klinis
pada umumnya meliputi 3 tahap yakni Pra-observasi, Observasi dan
Pasca-observasi. Proses tindak lanjut yang meliputi refleksi, perencanaan
pengembangan diri dan pengembangan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan
pembelajaran yang berpihak pada murid.
Seorang supervisor dengan
paradigma berpikir seorang Coach akan senantiasa menjadi mitra pengembangan
diri para guru dan rekan sejawatnya demi mencapai tujuan pembelajaran yang
berpihak pada murid. Percakapan-percakapan antara supervisor dan para guru senantiasa
memberdayakan sehingga setiap guru dapat menemukan potensi dan meningkatkan
kompetensi yang ada pada setiap individu. Supervisi akademik menjadi bagian
dalam perjalanan seorang pendidik menuju tujuan pembelajaran yang berpihak pada
murid dan membawa setiap murid mencapai keselamatan dan kebahagiaan.
Sumber : Modul 2.3 - Coaching untuk Supervisi Akademik.
REFLEKSI
MODUL 2.3 "COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK"
Setelah mempelajari Modul 2.3 ini diharapkan sebagai guru harus mampu dalam menemani dan menuntun rekan sejawatnya itu untuk menelaah proses belajar mereka sendiri. Belajar keterampilan coaching, memberdayakan diri melalui refleksi atas hasil pengalaman praktik profesional sendiri, refleksi dan mengambil pembelajaran, memunculkan pertanyaan-pertanyaan mendalam untuk mengakses keterampilan metakognitif ketika melihat dan mengevaluasi proses berpikirnya sendiri terkait belajar, pencapaian tujuan, dan pemecahan masalah.
Sebagai guru saya sudah mencoba melakukan praktek sebagai coach, saya merasa tertantang bagaimana bisa menggali pengalaman dalam mengatasi masalah dan membuat pertanyaan berbobot yang dapat membangkitkan pengetahuan coachee saya tanpa berusaha memberikan arahan.
Saya juga belajar menahan diri untuk tidak menjudgment, mengasumsikan serta mengasosiasikan ketika coachee berpendapat. Untuk permasalahan ini saya melakukan refleksi terhadap diri saya sendiri, apa yang bisa saya lakukan agar emosi saya tetap terkontrol.
Selama pembelajaran, saya sudah merasa mampu dalam menahan diri saya untuk tidak menjudgment ketika siswa saya berpendapat. Saya berikan mereka kebebasan berpendapat ketika saya mengajukan pertanyaan, tentu dengan pengaturan kesempatan berpendapat agar tidak mengganggu ketertiban di kelas. Saya merasa berhasil dalam menerapkan keterampilan sosial emosional . Saya juga selalu berusaha menjadi pendengar yang baik bagi rekan sejawat saya ketika mereka berkeluh kesah yang sedikit banyak dapat melepaskan beban mereka. Ke depan saya harus lebih matang dalam pengelolaan kontrol emosi dan semakin belajar untuk melakukan analisa kasus dengan lebih baik.
B. Implementasi Keterkaitan Coaching dengan PSE
Sistem Among yang dianut Ki
Hajar Dewantara menjadikan guru dalam perannya bukan satu-satunya sumber
pengetahuan melainkan sebagai mitra peserta didik untuk melejitkan kodrat dan
irodat yang mereka miliki, apa yang dilakukan?, salah satunya adalah mengintegrasikan
pembelajaran berdifrensiasi kedalam pembelajaran, dimana pembelajaran harus
disesuaikan dengan minat, profil dan kesiapan belajar, sehingga pembelajaran
dapat mengakomodir kebutuhan individu peserta didik, dalam hal ini “KHD
mengibaratkan bahwa guru adalah petani, dan peserta didik adalah tanaman dan
setiap individu peserta didik adalah tanaman yang berbeda, jika tanaman padi
membutuhkan banyak air, tentu akan berbeda perlakuan terhadap tanaman jagung
yang justeru membutuhkan tempat yang kering untuk tumbuh dengan baik”.
Kegiatan untuk melatih
menghadirkan presence yang bisa kita lakukan adalah dengan melakukan kegiatan
STOP dan Mindful Listening yang telah kita pelajari pada modul 2.2 Pembelajaran
Sosial Emosional yang lalu Penting diingat tidak ada satu cara yang terbaik
untuk semuanya karena setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk dapat
menghadirkan presence. Untuk itu temukan cara yang paling efektif untuk
Bapak/Ibu agar bisa terus melatih diri dan menerapkannya sebelum dan selama
melakukan percakapan coaching.
Pendekatan Sosial dan Emosional
dalam praktek coaching juga sangat diperlukan, Melalui pertanyaan-pertanyaan
reflektif yang diberikan guru, peserta didik akan menemukan kedewasaan dalam
proses berfikir melalui kesadaran dan pengelolaan diri, sadar akan kekuatan dan
kelemahan yang dimilkinya, mengambil prespektif dari berbagai sudut pandang
sehingga sesuatu yang menjadi keputusannya telah didasarkan pada pertimbangan
etika, norma sosial dan keselamatan dan kebahagiaan.
Teknik-teknik ini harus dikuasai oleh seorang CGP untuk dapat menempatkan dirinya dalam tantangan jaman saat ini, belajar mencari solusi dari setiap permasalahan tanpa mengutamakan penyelesaian secara emosi.
C. Hubungan Keterampilan Coaching dengan Pengembangan Kompetensi sebagai Pemimpin Pembelajaran.
Belajar dari bagaimana cara kita menghadapi murid dengan model pembelajaran klasikal dimana semua peran lebih mengarah pada guru maka di masa yang akan datang dan dimulai dari sekarang ini, seorang guru pengerak harus
mampu berperan sebagai pemimpin pembelajaran, pemimpin pembelajaran yang siap
mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada murid. Semua akan bisa
terlaksana dengan baik bila guru memiliki daya /memberdayakan. Memberdayakan
segala potensi dan kondrat yang ada, maka seorang gurj mutlak membutuhkan
keterampilan coaching ini sehingga guru mampu meng-Among atau menuntun murid
menuju kodrat terbaiknya dalam meraih kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik
sebagai pribadi maupun sekaligus sebagai anggota masyarakat.
Guru penggerak juga harus dapat menjadi dan mengambil peran sebagai coach bagi guru lain. Sesuai dengan peran tersebut seorang guru penggerak harus mampu menjadi mitra bagi guru lainnya dalam menyelesaikan masalah. Guru penggerak juga mempunyai peran sebagai pemimpin pembelajaran, dimana seorang pemimpin tentu harus mempunyai kemampuan untuk melakukan supervisi akademik ketika di perlukan. Hubungan nya dengan kedua peran tersebut, ketika melakukan nya tentu seorang guru penggerak harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai Pembelajaran sosial emosional. Guru penggerak harus memiliki kesadaran diri serta kesadaran sosial yang baik ketika melakukan coaching. Harus mampu menahan diri dan keinginan untuk berkomentar yang menjudgment sang coachee. Intinya seorang Coach itu harus mampu menjadi pendengar setia ketika sang coachee sedang menyampaikan pemahamannya.
Demikian koneksi materi 2.3 yang dapat saya buat dan semoga bermanfaat bagi pembaca khususnya CGP di angkatan-angkatan berikutnya.
0 Komentar
Berikan komentar yang membangun, cantumkan identitas Anda (account e-mail) agar kami dapat follow up apa yang Anda inginkan ...
Terima Kasih atas komentar Anda !